SISTEM PENUNJANG KEPUTUSAN

Sistem Penunjang Keputusan (DSS)

Definisi :

Sistem Komputer yang interaktif yang membantu pembuatan keputusan dalam menggunakan dan memanfaatkan data dan model untuk memecahkan masalah yang tidak terstruktur.

Tujuan

  1. Memberikan dukungan untuk pembuatan keputusan pada masalah yang semi/tidak terstruktur.
  2. Memberikan dukungan pembuatan keputusan kepada manajer pada semua tingkat dengan membantu integrasi antar tingkat.
  3. Meningkatkan efektifitas manajer dalam pembuatan keputusan dan bukan peningkatan efisiennya.
  4. Adaptability
  5. Flexibility
  6. User friendly3
  7. Support Intelligence, design, choice
  8. Effectiveness

Karakteristik SPK                                                                                           

Tiga Tingkat Teknologi SPK

1.      Spesific DSS

Merupakan hardware/software yang memungkinkan seseorang/ sekelompok orang pengambil keputusan melakukan analitis terhadap suatu masalah tertentu.

2.      DSS Generator

Suatu paket hardware/software yang mampu secara cepat dan mudah membuat specific DSS

3.      DSS Tools

Hardware /software yang membantu pembuatan specific DSS/Generator DSS

Manfaat SPK

  • Meningkatkan jumlah alternatif yang dipilih
  • Pemahaman yang lebih baik tentang bisnis
  • Respon yang cepat terhadap situasi yang tidak diharapkan.
  • Kontrol yang lebih baik

 

               SPK

  1. Mengkhususkan pada pengambilan dari pada manajer tingkat atas.
  2. Menekankan pada fleksibilitas, adaptibilitas dan mampu memberi respon dengan cepat.
  3. User memiliki kontrol penuh dalam berinteraksAN.

 DEFINISI ERP

ERP adalah sebuah sistem informasi perusahaan yang dirancang untuk mengkoordinasikan semua sumber daya, informasi dan aktifitas yang diperlukan untuk proses bisnis lengkap. Sistem ERP didasarkan pada database pada umumnya dan rancangan perangkat lunak modular.

ERP merupakan software yang mengintegrasikan semua departemen dan fungsi suatu perusahaan ke dalam satu sistem komputer yang dapat melayani semua kebutuhan perusahaan, baik dari departemen penjualan, HRD, produksi atau keuangan.

 TUJUAN ERP :

Sistem ERP dibuat untuk memproses suatu transaksi di organisasi dan gabungan fasilitas dan planning real-time, production, and customer response. Di tarik garis, ERP dikembangkan dengan latar belakang pemikiran tentang perlunya aktivitas integritas proses dalam perusahaan, agar lebih responsif dalam menanggapi kebutuhan customer. Meski banyak analis dan vendor perangkat lunak mendefinisikan berbeda-beda, namun maknanya relatif sama. Ada yang menyebutnya ERP, karena merupakan evolusi dari MRP – Material Requirement Planning menjadi MRP II – Manufacturing Resource Planning, yang kemudian menjadi ERP – Enterprise Resource Planning. Ada juga yang menyebut ERM – Enterprise Resource Management, sekedar mendekatkan makna dan akronimnya. Suatu sistem yang mengelola seluruh sumber daya perusahaan. ERM ini yang kemudian mendorong munculnya jargon baru TI, seperti CRM (Customer Relationship Management), SCM (Supply Chain Management), PLM (Product Lifecycle Management) dan SRM (Supplier Relationship Management). Jargon-jargon baru itu, pada intinya, adalah pemanfaatan lebih lanjut suatu sistem yang fokus utamanya adalah customer untuk CRM, rantai pergerakan barang untuk SCM, daur hidup produk untuk PLM serta supplier untuk SRM. Posisi ERM ada di tengah-tengah dan dikelilingi oleh CRM, SCM, PLM dan SRM. ERP akan berkembang terus sesuai dengan tuntutan konsumen. Yang jelas perkembangan ERP pada masa depan ini akan dititik-beratkan pada beberapa hal, yaitu lebih mendukung customer service, lebih mendukung vertical industri spesifik (vertical industry), dan juga lebih mendukung proses pengambilan keputusan.

ARSITEKTUR ERP :

Sistem ERP yang ada pada saat ini kebanyakan menggunakan sistem arsitektur 3-tier atau lebih. Arsitektur 3-tier secara umum digambarkan sebagai berikut:

Komponen-kompenen arsitektur 3-tier tersebut adalah:

  • Presentation Layer

Presentation layer merupakan sarana bagi pengguna untuk menggunakan sistem ERP. Presentantaion layer dapat berupa sebuah aplikasi (sistem berbasis desktop) atau sebuah web browser (sistem berbasis web) yang memiliki graphical user interface (GUI). Pengguna dapat menggunakan fungsi-fungsi sistem dari sini, seperti menambah dan menampilkan data.

  • Application layer

Lapisan ini berupa server yang memberikan layanan kepada pengguna. Server merupakan pusat business rule, logika fungsi, yang bertanggung jawab menerima, mengirim dan mengolah data dari dan ke server database.

  • Database layer

Berisi server database yang menyimpan semua data dari sistem ERP. Database layer bertanggung jawab terhadap manajemen transaksi data.

MODUL ERP :

Secara modular, software ERP biasanya terbagi atas modul utama yakni Operasi serta modul pendukung yakni Finansial dan Akunting serta Sumber Daya Manusia:

  1. Modul Operasi. Fungsinya: General Logistics, Sales and Distribution, Materials Management, Logistics Execution, Quality Management, Plant Maintenance, Customer Service, Production Planning and Control, Project System, Environment Management.
  2. Modul Financial Akuntansi. Fungsinya: General Accounting, Financial Accounting, Controlling, Investment Management, Treasury, Enterprise Controlling
  3. Modul Sumber Daya Manusia. Fungsinya: Personnel Management, Personnel Time Management, Payroll, Training and Event Management, Organizational Management, Travel Management.

PENERAPAN ENTERPRISE RESOURCE PLANNING (ERP)  PADA PT ASTRA HONDA MOTOR (AHM)

 A.    Pendahuluan

Penerapan Teknologi Informasi (TI) dalam perusahaan dewasa ini merupakan hal yang mutlak ada apabila tidak ingin tertinggal dari para kompetitor dan tertinggal kemajuan jaman. Investasi TI dalam perusahaan akan bermanfaat jika dapat menciptakan value dari teknologi yang kian menjadi komoditas utama. Melalui sistem TI yang canggih, para pemimpin pasar bisa mengukuhkan diri sebagai pemimpin di industri masing-masing. Bahkan banyak perusahaan yang dapat  menyalip para jawara pasar, dikarenakan penerapan TI yang tepat dalam perusahaannya. Banyak perusahaan telah merasakan manfaat TI. Sebagian yang lain menyatakan TI mendukung dicapainya efisiensi, dan menambah keunggulan daya saing perusahaan. Bahkan berbagai studi melaporkan bahwa penggunaan TI mendorong terjadinya efisiensi, dan memperbaiki kualitas output.

PT Astra Honda Motor (AHM) sebagai perusahaan perakitan motor terkemuka di Indonesia juga mengedepankan penerapan TI dalam proses bisnisnya. Penerapan teknologi informasi (TI) pada AHM bukan merupakan hal yang baru, karena perusahaan ini sudah mengimplementasikannya di pabrik motornya sejak tahun1980. Pada awalnya TI pada AHM hanya dimanfaatkan untuk mendukung sistem akuntansi saja. Namun pada tahun 1986, teknologi informasi merambah ke sistem keuangan dan kontrol produksi. Sistem tersebut dibuat secara swadaya oleh PT AHM sendiri, sehingga yang terjadi adalah TI yang diaplikasikan menjadi terpisah satu sama lainnya atau tidak terintegerasi. Pada tahun 1995, sistem perusahaan diubah menjadi mulai terintegrasi dengan penggunaan ERP dan untuk selanjutnya semakin berkembang dari tahun ke tahun. Tujuan dari PT AHM menerapkan TI di perusahaannya adalah untuk menerapkan sistem Just In Time (JIT), sehingga dapat tercipta efisiensi dalam perusahaan.  

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas dapat diangkat perumusan masalah yaitu: Bagaimana implementasi  Enterprise Resource Planning (ERP) dalam mendukung sistem Just In Time (JIT) pada PT Astra Honda Motor (AHM) agar berjalan baik?

  1. Landasan Teori 
  2. Enterprise Resource Planning (ERP)

Enterprise Resource Planning (ERP) merupakan sistem informasi yang diperuntukkan bagi perusahan manufaktur maupun jasa yang berfungsi untuk mengintegrasikan dan mengotomasikan proses bisnis yang berhubungan dengan aspek operasi, produksi maupun distribusi di perusahaan bersangkutan. Sistem informasi yang diperuntukkan bagi perusahan manufaktur maupun jasa yang berperan mengintegrasikan dan mengotomasikan proses bisnis yang berhubungan dengan aspek operasi, produksi maupun distribusi di suatu perusahaan. ERP berkembang dari Manufacturing Resource Planning (MRP II) dimana MRP II sendiri adalah hasil evolusi dari Material Requirement Planning (MRP) yang berkembang sebelumnya. Sistem ERP adalah sebuah terminologi yang secara de facto merupakan aplikasi yang dapat mendukung transaksi atau operasi sehari-hari yang berhubungan dengan pengelolaan sumber daya sebuah perusahaan, seperti dana, manusia, mesin, suku cadang, waktu, material dan kapasitas.

 

 

 

Tujuan sistem ERP adalah untuk mengkoordinasikan bisnis organisasi secara keseluruhan Adapun manfaat dari penggunaan ERP bagi perusahaan yaitu:

-      Otomatisasi dan integrasi proses bisnis

-      Membagi  database yang umum dan praktek bisnis melalui enterprise

-      Menghasilkan informasi yang real-time

-      Memungkinkan perpaduan proses transaksi dan kegiatan perencanaan

Dengan banyaknya manfaat yang di dapatkan melalui penggunaan ERP, perusahaan dewasa ini berbondong-bondong untuk ikut menerapkan ERP pada perusahaannya.

  1. Just In Time (JIT)

Sistem produksi tepat waktu (Just In Time) adalah sistem produksi atau sistem manajemen pabrikasi modern yang dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan Jepang yang pada prinsipnya hanya memproduksi jenis-jenis barang yang diminta sejumlah yang diperlukan dan pada saat dibutuhkan oleh konsumen.

Konsep Just In Time adalah suatu konsep di mana bahan baku yang digunakan untuk aktivitas produksi didatangkan dari pemasok atau suplier tepat pada waktu bahan itu dibutuhkan oleh proses produksi, sehingga akan sangat menghemat bahkan meniadakan biaya persediaan barang atau penyimpanan barang (stocking cost). Just In Time adalah suatu keseluruhan filosofi operasi manajemen dimana segenap sumber daya, termasuk bahan baku dan suku cadang, personalia, dan fasilitas dipakai sebatas dibutuhkan. Tujuannya adalah untuk mengangkat produktifitas dan mengurangi pemborosan. Just In Time didasarkan pada konsep arus produksi yang berkelanjutan dan mensyaratkan setiap bagian proses produksi bekerja sama dengan komponen-komponen lainnya. Tenaga kerja langsung dalam lingkungan Just In Time dipertangguh dengan perluasan tanggung jawab yang berkontribusi pada pemangkasan pemborosan biaya tenaga kerja, ruang dan waktu produksi.

  1. Implementasi

Melalui sistem terintegrasi yang digunakan, dalam hal ini menggunakan ERP, pada setiap periode AHM akan memperoleh informasi dari divisi Keuangan, Operasi dan Human Resource mengenai aktivitasnya masing-masing. Sebagai contoh, divisi operasi menyajikan informasi mengenai produksi jumlah motor yang akan dijual untuk satu bulan kedepan. Dengan demikian, bagian produksi dapat merencanakan tipe apa saja yang akan diproduksi dan juga jumlah komponen yang dibutuhkan. Selanjutnya, informasi tersebut disampaikan kepada perusahaan pemasok komponen mengenai kebutuhan tersebut. Selanjutnya pada divisi keuangan menyajikan anggaran biaya yang dibutuhkan. Sedangkan untuk divisi HR menyiapkan kebutuhan tenaga kerja. Semua informasi tersebut diintegrasikan dalam satu database, sehingga setiap divisi dapat menghasilkan informasi yang real time.

Sistem akan langsung menghitung jumlah suku cadang komponen yang telah digunakan. Secara otomatis, persediaan suku cadang komponen langsung dihitung. Untuk selanjutnya, sistem akan memberitahu kebutuhan persediaan baru untuk pemesanan. Aplikasi ERP tersebut mendukung sistem Just in Time (JIT) yang diterapkan oleh perusahaan. Melalui ERP informasi kebutuhan persediaan baru untuk pemesanan dalam JIT akan bergulir cepat, sebab sistem menghadirkan otomatisasi dan integrasi pada sistem bisnis yang akan diolah melalui software secara online.

Hubungan AHM dengan vendor dilakukan melalui online sehingga setiap kali pemesanan dilakukan vendor langsung dapat mengirimkan komponen yang dibutuhkan pabrik. Secara otomatis, persediaan suku cadang komponen langsung dihitung. Berikutnya, sistem akan memberitahu kebutuhan persediaan baru untuk pemesanan, sehingga penggunakan aplikasi ERP mendukung sistem Just in Time (JIT). Selain itu, kelengkapan atribut pemesanan seperti nama vendor, nama suku cadang, jumlah, dan jam delivery harus tercantum pada komponen yang diterima dengan dilengkapi Bar Code Text (BCT).

Keuntungan yang didapat dari penerapan Just In Time (JIT) melalui pengunaan ERP dalam perusahaan adalah terjadinya efisiensi yang sangat besar. Waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi motor akan menjadi sangat cepat. Keuntungan lainnya yang di dapat oleh PT AHM adalah dapat menyatukan jaringan komunikasi antar pabrik, sehingga hubungan antar pabrik menjadi mudah.

Penggunaan TI agar dapat digunakan secara maksimal pada perusahaan juga harus didukung pula oleh skill karyawan. Karyawan AHM dapat dikatakan memguasai dari implementasi aneka solusi TI di lingkungannya. Hal ini dikarenakan TI sudah lama diperkenalkan pada mereka sehingga komputerisasi bukan merupakan hal yang baru

  1. Kesimpulan

Keberhasilan dalam penggunaan ERP untuk mencapai tujuan, tergantung pada penerapan dan kebutuhan perusahaan. Perusahaan tidak dapat hanya ikut-ikutan tren dalam menerapkan ERP, tetapi tidak mengetahui apa yang menjadi kebutuhan perusahaan. Sistem ERP yang mengintegrasikan proses bisnis dalam satu database membuat arus informasi dari perusahaan ke vendor dapat bergulir cepat. Ketika pemesanan dilakukan, hal tersebut sudah melibatkan kesiapan dari tenaga kerja dan angaran biaya yang dibutuhkan, sehingga ketika komponan tiba, maka proses produksi dapat langsung dikerjakan seketika itu juga. Hal tersebut sangat mendukung pada konsep JIT dimana inventori dapat diminimalisir dengan proses produksi yang berjalan cepat tersebut.

  1. Saran

ERP adalah alat yang membantu perusahaan untuk menjadi lebih baik, berkesinambungan dan terciptanya kerjasama yang baik antara People, Process dan System dimana hal tersebut sangat penting menjamin keberhasilan implementasi dan penggunaan ERP. Dalam penggunaan ERP seharusnya berprinsip tepat guna, yakni TI yang digunakan oleh perusahaan adalah benar-benar dibutuhkan oleh perusahaan. Selama ini kegagalan perusahaan dalam menerapkan TI adalah karena perusahaan kurang memahami apa yang sebetulnya diperlukan oleh perusahaan itu sendiri. Perusahaan hanya cenderung menggunakan TI yang berbudget mahal sekedar agar tidak tertinggal dengan perusahaan-perusahaan lain, namun tidak melihat apa yang sebenarnya dibutuhkan dan memikirkan apakah program tersebut cocok untuk diterapkan pada perusahaan. Perencanaan yang baik dalam penggunaan TI dapat meminimalisir terjadinya hambatan maupun ketidakefisienan penggunaan TI, dan juga agar penggunaan TI dapat berhasil mencapai tujuan yang diinginkan perusahaan. ERP pada JIT dalam perusahaan dalam berjalan baik apabila divisi produksi dapat merumuskan kebutuhan komponen yang tepat berdasarkan informasi dari divisi Human Resource dan Keuangan.

Untuk menerapkan sistem ERP yang digunakan oleh perusahaan hendaklah bukan sekedar sebuah aplikasi atau software semata, namun merupakan suatu komitmen untuk menerapkan sebuah paradigma bisnis baru yang berorientasi pada proses bisnis (business process). Dalam perspektif baru ini, seluruh SDM perusahaan harus memiliki komitmen untuk merubah budaya kerjanya dari yang semula bersifat terpisah dalam sejumlah divisi-divisi tertentu, menjadi yang lebih berorientasi pada rangkaian proses lintas divisi atau departemen. Batasan-batasan struktur organisasi yang selama ini kerap memisahkan antara satu bagian dengan bagian yang lain harus dapat diganti untuk terciptanya kerjasama antar bagian secara terintegrasi, terpadu, dan holistik.

Terdapat tiga kata kunci utama yang harus selalu dimiliki oleh segenap pimpinan puncak dan manajemen yang ingin menerapkan sistem ERP, yaitu yang dikenal dengan 3C: Commitment dari seluruh jajaran manajemen dan karyawan, Communication yang selalu berlangsung terus-menerus agar tidak terjadi kesalahpahaman, dan Consistency yang tinggi dalam usaha untuk menerapkan sistem ERP di tubuh perusahaan.

Elemen SPK.

  1. Data Management. Termasuk database, yang mengandung data yang relevan untuk berbagai situasi dan diatur oleh software yang disebut Database Management Systems (DBMS).
  2. Model Management. Melibatkan model finansial, statistikal, management science, atau berbagai model kuantitatif lainnya, sehingga dapat memberikan ke sistem suatu kemampuan analitis, dan manajemen software yang diperlukan.
  3. Communication (dialog subsystem). User dapat berkomunikasi dan memberikan perintah pada SPK melalui subsistem ini. Ini berarti menyediakan antarmuka.
  4. Knowledge Management. Subsistem optional ini dapat mendukung subsistem lain atau bertindak sebagai komponen yang berdiri sendiri

The Data Management Subsystem.

Terdiri dari elemen-elemen:

  • SPK database.
  • Database management system.
  • Data directory.
  • Query facility.

Contoh Penerapan SPK untuk aplikasi keuangan

PENERAPAN SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN

PADA BALTON INDUTRIES

BAB I PENDAHULUAN

Balton Industries terdiri dan empat perusahaan yang berbeda yang bergerak pada industri yang berbeda. Balton, bisnis multi jutaan dollar, selalu beroperasi dengan dana yang minimum untuk mendapatkan peluang investasi maksimal kepada organisasi secara seluruh, Balton telah berhasil dalam bisnis selama 16 tahun dan belakangan ini telah menguasai asset tunai yang dapat digunakan untuk investasi jangka panjang.

Pejabat kepala keuangan dari organisasi ini adalah wakil presiden direktur Keuangan yang bertanggung jawab untuk menginvestasikan $ 1,234,500 yang terdapat dalam rekening bank. Walaupun ada sedikit penambahan maupun pengurangan di rekening bank, dia merasa bahwa jumlah ini cukup untuk diinvestasikan dengan cadangan 15% dari asset tunai ini untuk keperluan likuiditas.

Untuk membantu wakil presiden direktur dalarn mengembangkan rencana investasi atau portfolio, tenaga seorang konsultan digunakan, konsultan tersebut memiliki keahlian yang tidak dimiliki oleh sang wakil presiden direktur. Khususnya, konsultan tersebut memiliki keahlian dalam menentukan tingkat. pengembalian investasi (Return On Investment) dari berbagai altematif, estimasi resiko, dan potensi perkembangan investasi.

Berdasarkan ketersediaan dana untuk investasi, konsultan merekomendasikan 7 kemungkinan altematif investasi seperti dijelaskan dalam tabel berikut ini (Uang Tunai tentu merupakan alternatif ke-8 yang diperlukan untuk keperluan likuiditas). Ketika Wakil presiden direktur setuju dengan ketujuh alternatif, konsultan kemudian menanyakan kriteria keuangan yang dapat digunakan untuk mengukur keuntungan dan kerugian dari setiap altematif Sang wakil presiden direktur menawarkan kriteria sebagai berikut:

1.  Tingkat Pengembalian lnvestasi Tahunan (Annual Return on Investment)

Sasaran utama dalam rencana investasi adalah untuk menghasilkan tingkat pengembalian investasi tahunan yang maksimal. Konsultan memutuskan untuk memakai persentase rata rata tingkat pengembalian (rate of return) tahun ini untuk masing- masing investasi.

 

Alternatif Investasi

Penjelasan Singkat

Mutual Fund I

Resiko rendah, investasi besar di bonds, sedikit pada saham

Mutual Fund II

Resiko rendah ke menengah, sedikit besar investasi di bonds daripada saham.

Mutual Fund III

Resiko menengah ke tinggi, sedikit lebih besar investasi di saham daripada bonds.

Mutual Fund IV

Resiko tinggi, investasi besar di saham, sedikit di bonds

Treasury Bills

Resiko rendah, obligasi pemerintah

Real Estate

Properti spekulasi resiko tinggi

Saving and Loan

Resiko rendah, hasil besar dengan menyimpan sertifikat

 

2.  Resiko (Risk)

Investasi harus meminimumkan resiko dari investasi. Wakil presiden direktur mengindikasikan investasi dengan peluang lebih besar 50-50 untuk kehilangan uang tidak boleh dimasukkan kedalam seleksi terakhir. Konsultan memperkirakan koefisien resiko dari survey setiap alternatif. Tingkat resiko berbanding lurus dengan persentase resiko. (Makin besar persentase, makin besar resiko yang

dihadapi).

3. Perkembangan (Growth)

Rencana investasi harus mengikutsertakan investasi dengan potensi perkembangan yang tinggi, Konsultan menggunakan formula analisa keuangan untuk mendapatkan tingkat perkembangan investasi yang diharapkan sebagai fungsi dari tingkat pengembalian investasi, dirata-ratakan untuk 4 periode tahunan, Hasil pengukuran dalam persentase dan konsisten dengan persentase dengan persentase yang diusulkan oleh wakil presiden direktur tersebut. Khususnya dia merasa bahwa investasi dengan tingkat perkembangan diatas 10% yang dapat diikutsertakan dalam analisa.

4. Jangka Waktu Investasi (Length of Time for the Investment)

Rencana investasi harus mencakup investasi dengan jangka waktu investasi paling lama 7 tahun. Semakin panjang jangka waktu investasi, maka makin tinggi peluang mengalami kegagalan. Pengukuran yang dilakukan berdasarkan jangka waktu investasi minimum tiap tiap investasi atau rata rata ekspektasi jangka waktu yang diperlukan untuk investasi.

Semua kriteria yang dihitung disajikan dalam tabel berikut ini. Seperti yang dapat dilihat seperti contoh, alternatif investasi Mutual Fund I mempunyai tingkat pengembalian investasi tahunan sebesar 17 %. Faktor resiko sebesar 35 %, tingkat perkembangan 21%, dan memerlukan jangka waktu 6 tahun untuk investasi.

Karena jumlah uang berubah dengan cepat, konsultan merasa bahwa investasi

dilakukan dengan persentase dari total dana yang tersedia, bukan dengan menentukan jumlahnya. Sebagai tambahan, untuk membatasi dana yang digunakan, wakil presiden juga menginginkan pembatasan total dana yang ditempatkan ke masing masing investasi tidak melebihi 50 %. Dia juga menginginkan jumlah dana yang ditempatkan untuk dua alternatif investasi dengan resiko tertinggi tidak boleh melebihi 40 %.

Investment Alternatives

Annual

Return On

Investment

Risk Estimate

Percentage Growth Estimate

Estimated Time of Investment

Mutual Fund I

17

35

21

6

Mutual Fund II

19

45

24

6

Mutual Fund III

21

60

26

7

Mutual Fund IV

24

70

30

8

Treasury Bills

08

10

05

5

Real Estate

25

75

27

7

Saving and Loan

11

25

02

3

Cash

00

00

00

0

 

 

 

 

 

Pertanyaan yang timbul

1.  Metode kuantitatif apakah yang harus digunakan untuk memodelkan permasalahan ini?

2.  Sesuai dengan pertanyaan 1, Formula apakah untuk permasalahan ini? Tentukan dengan jelas elemen-elemen model tersebut.

3.  Apa solusi persentase untuk formulasi pada pertanyaan 2 ?

4.  Berapa banyak uang tunai yang harus dialokasikan untuk masing masing alternatif investasi ?

Jawaban

1.     Model yang paling tepat untuk kasus ini adalah model optimasi algoritnik, karena penyelesaiannya untuk mencari jawab terbaik melalui proses berulang atau iteratif. Model penyelesaiannya adalah dengan menggunakan metode simpleks. Dengan metode simpleks akan didapatkan berapa persentase dana yang dialokasi untuk masing-masing alternatif. Sebenarnya pemecahan masalah dapat juga digunakan metode analisa keputusan. Tetapi dengan analisa keputusan, hasilnya berupa pemilihan alternatif yang terbaik. Sedangkan pihak manajemen menginginkan adanya perhitungan alokasi dana untuk masing-masing alternatif.

2.     Karena masing-masing altenatif memiliki keuntungan dan kelemahan yang tidak dapat dikuantifikasi dalam kategori yang sama, mis: dalam bentuk satuan moneter. Maka dilakukan pendekatan utilitas. Tetapi yang perlu ditekankan bahwa untuk pendekatan utilitas, nilai utilitas yang diterapkan pada masing-masing kategori tergantungan kepada nilai yang terkandung pada pengambilan keputusan. Untuk itulah kita perlu menentukan tingkat batas utilitas untuk masing-masing kategori altenatif.

 

Kategori

Batas

Utilitas

Bawah

Annual ROI

Risk estimate

% Growth Estimate

Estimated Time Investment

0

0

0

0

0

10

0

10

Atas

Annual ROI

Risk estimate

% Growth Estimate

Estimated Time Investment

25

45

30

7

10

0

10

0

Dari penilaian Vice President terhadap masing masing alternatif, maka altenatif Mulual Fund III dan Mutul Fund IV dan Real Estate tidak dimasukkan karena tingkat resikonya diatas 50% sebagaimana yang ditetapkan oleh Vice President sebagai batas untuk dimasukkan sebagai calon alternatif investasi. Kemudian alternatif Treasury Bills dan Savring and Loans juga tidak dimasukkan karena tingkat pertumbuhannya dibawah 10% sebagaimana yang ditetapkan sebagai batas untuk dimasukkan sebagai calon alternatif investasi. Jadi alternatif berkurang menjadi hanya: Mutual Fund I dan Mutual Fund II, sedangkan Cash (Uang tunai) tidak dimasukkan dalam perhitungan tetapi telah ditetapkan alokasi 15% dari keseluruhan dana yang tersedia. Untuk kedua altematif yang memenuhi syarat, maka

Kategori

Annual ROI

Risk

% Growth

Time

Total

Mutual Fund I

6.8

2.22

7

1.43

17.45

Mutual Fund II

7.6

0

8

1.43

17.03

 

Formulasi Masalah :

Maks:z= 17.45 X1 + 17.03 X2

Subject to:

X1 + X2

X1

X2

X1,X2

 

3. Hasil dari penyelesaian formulasi pada pertanyaan 2 adalah :

Xl = 50 % (Investasi Mutual Fund I dengan alokasi dana 50%)

X2= 35 % (Investasi Mutual Fund II dengan alokasi dana 35%)

Cash = 15 %

4. Alokasi dana untuk masing-masing alternatif adalah :

Mutual Fund I    = 50 % x $1,234,500            = $ 617,250

Mutual Fund II  = 35 ?/o x $1,234,500          = $ 432,075

Cash                      = 15 % x $1,234,500            = $ 185,175

 

Referensi :

http://www.google.co.id

http://angger335.blogspot.com/2012/05/tugas-konsep-sistem-informasi-lanjut.html

Indrajit, Eko Ricardus. 9 Juli 2003. Rubrik Tanya Jawab E-Business. http://www.ebizzasia.com/0109-2003/q&a,0109-2.htm, diakses pada 3 januari 2008

Martin, E. Wainright, et al. (2005). Managing Information Technology. Pearson Prentice Hall. USA.

Susanto, Abraham. 25 November 2004. Astra Honda Motor: TI untuk Mendukung Proses Just In Time. http://www.swa.co.id/ , diakses pada tanggal 30 Desember 2008

http://blog.student.uny.ac.id/rheza/2011/04/28/sistem-pendukung-keputusan-spk/

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s